Menentukan Pilihan

Lebih baik warna apa ya, biru atau merah?

Mana yang harus kupilih, b atau c?

Tadi siang Kika menawarkan posisi ketua divisi untukku, terima atau tolak?

Pizza atau martabak?

Kuliah, jangan?

Saya termasuk orang yang ragu dalam menentukan pilihan. Kalau tidak salah saya pernah melakukan semacam psikotes dan hasilnya menyatakan bahwa saya adalah orang yang penuh pertimbangan, mungkin dapat dikatakan “terlalu banyak mikir“, dan plin-plan dalam memutuskan suatu hal. Saya yakin ribuan orang di sisi lain bumi juga memiliki karakter yang sama dengan saya.

Setiap orang pasti memiliki preferensi masing-masing yang mempengaruhi hal apa yang akan ia lakukan dalam hidupnya, begitu pula dengan saya. Kondisi saat itu pun dapat mempengaruhi pilihan apa yang akan kita ambil. Saya yakin orang yang membaca blog saya sudah mengerti akan hal itu.

Bagi saya, tidak pula semua keputusan sulit untuk diambil. Saya lebih mudah untuk menentukan hal-hal yang berkaitan dengan diri pribadi, tanpa melibatkan orang lain secara langsung. Contoh yang sangat sederhana adalah menyikat gigi.

Mengaku sajalah, ada kalanya kita malas untuk menyikat gigi, apalagi ketika kita sampai rumah saat larut malam, lelah sehabis menghadiri forum dengan kawan-kawan di kampus, dan rasanya ingin langsung melompat ke kasur dan tidur. Padahal, kita sudah tahu konsekuensi logis yang harus kita tanggung jika kita malas menyikat gigi. Apa yang akan kita hadapi di masa depan tergantung dengan pilihan kita saat ini:

pilih keuntungan jangka pendek atau keuntungan jangka panjang?

Continue reading Menentukan Pilihan

Advertisements

Dani, Moni, dan Semut Api

Aku menatap ke depan.

Urat-urat si pemilik jari di hadapanku menyembul. Cengkeramannya begitu kuat, sampai-sampai aku mundur beberapa langkah. Aku tidak bisa mengukur seberapa besar tangan tersebut dibandingkan dengan tubuh mungilku. Aku takut sekali, alih-alih tetap mempertahankan cengkeramannya, jari-jari itu akan melepaskannya dan malah mencengkeram, meremukkan badanku. Aku bergidik.

Aku memperhatikan jari-jari itu selama satu menit utuh, ingin sekali memastikan keberlangsungan hidupku selama minimal beberapa hari ke depan. Jari-jari itu tidak bergeser satu milimeterpun. Aku menarik napas lega, kemudian melanjutkan perjalananku mencari makanan.

Semenjak aku diadakan dari ketiadaan (hei, jangan salahkan aku jika aku tidak tahu proses diriku terbentuk), aku jarang bisa melihat makhluk hidup lain secara utuh dari dekat tanpa perlu menengadah. Bisakah kamu bayangkan sulitnya hidup jika kamu bahkan tidak bisa melihat apa yang datang menghampirimu. Aku harus berhati-hati setiap detiknya, di manapun aku berada, dan itu sangat melelahkan. Kadang-kadang, saat aku berpapasan dengan temanku, kami selalu bertukar sapaan sejenis “kemarin Polo mati tenggelam di genangan air” atau “akhirnya aku tahu bagaimana rasanya jadi burung berkat laki-laki muda yang menyentilku dari tangannya”.

Sudahkah kamu berhasil menebak siapa aku, Monster-Tidak-Peka-Penyiksa-Binatang-Kecil?

Ya, aku semut api yang tidak sengaja kamu injak tadi pagi.

.   .   .

Continue reading Dani, Moni, dan Semut Api

Write to Express, Not to Impress

Asri kecil berdiri di koridor di depan kelasnya, melihat beberapa kertas yang tertempel di jendela. Perlahan mulutnya menyunggingkan senyum, memamerkan sederet gigi yang rapi karena, tidak seperti anak kecil pada umumnya, ia benci makan permen (kecuali dua merk permen, silakan tebak). Kertas-kertas itu adalah tugas pelajaran Bahasa Indonesia murid kelas 3A, tentang menulis surat dan mengarang cerita. Ketika itu ia menulis pengalaman keluarganya berlibur di Bali (hei, ia bahkan belum pernah ke Bali sebelumnya). Entah mengapa, melihat karyanya dipajang dan dapat dibaca oleh banyak orang menimbulkan rasa hangat di dalam hatinya.

Sejak dulu saya memang suka menulis. Saya menulis untuk mengungkapkan hal yang tidak bisa saya sampaikan secara lisan. Saya menulis karena saya dapat dikatakan pendiam jika dibandingkan dengan teman-teman saya (kecuali kepada teman yang sudah saya kenal dekat). Saya menulis karena ekspresi wajah saya terlalu datar untuk menyampaikan kesan atas apa yang benar-benar saya rasakan kepada lawan bicaranya, yang seringkali membuat saya kesal terhadap diri saya sendiri. Saya menulis karena saya suka membaca dan saya ingin bisa memutar ulang hal-hal yang telah saya alami dengan membaca tulisan saya di masa itu.

Saat kelas 3 SMP, saya pernah diminta membacakan cerpen yang saya buat di depan teman-teman saya di kelas. Secara garis besar, cerpen tersebut hanya menceritakan tentang pengalaman saya mendapat nilai jelek saat ujian dan saya sangat merasa bersalah kepada orang tua saya. Kamu tahu lanjutannya? Saya tidak sanggup menyelesaikan membaca cerpen saya hingga akhir dan harus digantikan oleh teman saya… karena saya menangis saat membacanya! Hahaha. Kadang saya merasa geli mengingatnya.

Saya sering sekali menulis karena impuls sesaat, biasanya karena tiba-tiba muncul inspirasi yang terus mengganggu hidup saya, membuat hidup saya tidak tenang, sebelum saya berhasil menumpahkan semuanya. Banyak dari ide mentah tersebut yang masih bisa dikembangkan, namun di beberapa waktu saya malas untuk mengembangkan dan melanjutkan cerita yang sudah saya mulai. Itu adalah salah satu hal yang ingin saya kurangi: saya ingin menyelesaikan hal yang sudah saya mulai. Hal itu sulit, setidaknya dalam konteks menulis, karena saya lebih sering menulis untuk bersenang-senang.

Saat saya menemukan situs ini, mungkin saat SMA atau awal kuliah, saya merasa terinspirasi dengan semua tulisan yang ada di situs ini. Harus saya akui semua orang yang menulis ini memiliki pemikiran yang hebat, setelah membaca tulisan-tulisan mereka. Semua orang memiliki cerita untuk dibagikan, untuk dijadikan pembelajaran bagi pembacanya.

Juga, dijadikan motivasi bagi orang lain untuk berbagi ceritanya pula.

Bagaimana dengan saya?

Saya kabur!

Entah mengapa, ketika ingin mempublikasikan sesuatu di situs ini, saya merasakan tekanan yang besar untuk menulis hal yang berbobot, seperti tulisan-tulisan yang sebelumnya saya baca. Saya tidak mengerti mengapa saya merasakan hal tersebut, padahal tidak ada siapapun yang memaksa saya harus membuat rangkaian kalimat yang penuh dengan rima, kata-kata asing yang jarang digunakan manusia, atau berbagi pengalaman moral sekelas Dalai Lama. Saya merasa saya tidak bisa menulis untuk bersenang-senang di sini!

Lalu, apa yang saya lakukan? Apakah saya berhenti menulis?

Ya dan tidak. Ya, saya tidak menulis di situs ini, tapi saya menulis di situs lain yang, bagi saya, terkesan lebih santai dan lebih bebas mengungkapkan apapun. Situs itu adalah situs untuk membuat blog yang sangat populer dengan post dari orang-orang seperti Mas Gun, penuh dengan meme, dan lain-lain. Bisa tebak? Hahaha.

Tetapi, akhir-akhir ini saya tidak bisa login di situs tersebut, padahal saya memiliki banyak hal untuk dipublikasikan. Pada akhirnya, saya kembali lagi ke Medium.

.   .   .

Continue reading Write to Express, Not to Impress