Dani, Moni, dan Semut Api

Aku menatap ke depan.

Urat-urat si pemilik jari di hadapanku menyembul. Cengkeramannya begitu kuat, sampai-sampai aku mundur beberapa langkah. Aku tidak bisa mengukur seberapa besar tangan tersebut dibandingkan dengan tubuh mungilku. Aku takut sekali, alih-alih tetap mempertahankan cengkeramannya, jari-jari itu akan melepaskannya dan malah mencengkeram, meremukkan badanku. Aku bergidik.

Aku memperhatikan jari-jari itu selama satu menit utuh, ingin sekali memastikan keberlangsungan hidupku selama minimal beberapa hari ke depan. Jari-jari itu tidak bergeser satu milimeterpun. Aku menarik napas lega, kemudian melanjutkan perjalananku mencari makanan.

Semenjak aku diadakan dari ketiadaan (hei, jangan salahkan aku jika aku tidak tahu proses diriku terbentuk), aku jarang bisa melihat makhluk hidup lain secara utuh dari dekat tanpa perlu menengadah. Bisakah kamu bayangkan sulitnya hidup jika kamu bahkan tidak bisa melihat apa yang datang menghampirimu. Aku harus berhati-hati setiap detiknya, di manapun aku berada, dan itu sangat melelahkan. Kadang-kadang, saat aku berpapasan dengan temanku, kami selalu bertukar sapaan sejenis “kemarin Polo mati tenggelam di genangan air” atau “akhirnya aku tahu bagaimana rasanya jadi burung berkat laki-laki muda yang menyentilku dari tangannya”.

Sudahkah kamu berhasil menebak siapa aku, Monster-Tidak-Peka-Penyiksa-Binatang-Kecil?

Ya, aku semut api yang tidak sengaja kamu injak tadi pagi.

.   .   .

“Dreams, dreams
Of when we had just started things
Dreams of you and me

It seems, it seems
That I can’t shake those memories
I wonder if you feel the same way too”

(Lily Allen – Littlest Things)

Mata coklat Dani menatap lurus ke jalan dan kedua tangannya memegang setir dengan santai. Ia bernyanyi pelan mengikuti lagu yang diputar di radio. Sudah hampir dua jam ia mengemudikan mobilnya, sebuah sedan berwarna silver keluaran tahun 2008 yang ia cicil sendiri dari hasil kerja sambilannya sebagai pengajar di bimbingan belajar, pustakawan, dan mengurusi usaha konveksi milik orang tuanya. Dani masih kuliah, sedang menyelesaikan Tugas Akhir-nya. Karena itu, ia harus pintar membagi waktu antara akademik dan pekerjaannya.

Kini Dani sedang perlu liburan.

Oleh karena itu, di sinilah Dani, mengendarai mobilnya sepulang dari kampus menuju Puncak. Ia sendiri tidak mengerti mengapa harus Puncak; itu hanyalah pikiran yang sekilas terlintas dan ia mengikuti instingnya.

Sesaat sebelum memasuki gerbang tol, Dani teringat bahwa ia tidak mau pergi ke Puncak sendirian. Ia adalah orang yang mudah sekali mengantuk dan ia takut sekali akan terjadi apa-apa di jalan jika tidak ada seseorang yang bisa ia ajak bicara. Dani pun berharap seseorang yang bisa menggantikannya menyetir ketika ia lelah atau merasa butuh tidur. Dengan dua pertimbangan tersebut, Dani mencari teman yang bisa diajak pergi dengannya saat itu juga.

Semua orang yang berpikir logis akan menghubungi teman dekatnya untuk diajak pergi. Jika bukan teman dekat, mungkin teman yang saat itu sedang berada di tempat yang tidak begitu jauh darinya sekarang dan bisa langsung ia jemput atau mungkin keluarganya. Tapi, tidak, Dani tidak sewaras itu. Atau, tidak secerdas itu, terserah padamu ingin menyebut ia apa.

Dani meraih telepon genggamnya, membuka browser, dan mengetik “find a friend” di situs mesin pencari langganannya. Kemudian, ia memilih hasil pencarian paling atas, situs cariteman.com.

Dani terbahak keras karena tingkahnya sendiri.

Sekarang, Dani melirik sedikit ke tempat duduk penumpang, kepada temannya. Ia menatap lurus ke jalan, kedua tangannya berada di pangkuannya. Sejak ia masuk ke mobil, bertukar sapa, dan berbasa-basi ringan dengan Dani, ia diam. Benar-benar diam, tidak berusaha membuka percakapan dengan Dani. Bukan diam yang nyaman, menurut Dani, karena bisa dikatakan orang ini adalah orang yang sama sekali asing bagi Dani. Rasanya aneh saja, melakukan perjalanan jauh bersama seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya, dan diam di sepanjang perjalanan.

Bego banget, Dan! pikir Dani, tetapi ia nyengir.

“Kenapa kamu nyengir sendiri?” Calon temannya akhirnya mengeluarkan suara.

Dani langsung menyembunyikan senyumnya. “Gak ada apa-apa kok, Mon, santai.” Dani nyengir lagi.

Moni mengangkat sebelah alisnya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Ia kembali menatap ke luar jendela, ke barisan tanaman teh yang mulai terlihat. Dani memutar bola matanya. Seriously, pikirnya.

Dani melirik lagi calon temannya. Dua jam yang lalu, mereka berkenalan. Perempuan ini bernama panggilan Moni, sesama mahasiswa, namun Moni setingkat lebih muda dibanding Dani. Mereka mengambil jurusan yang berbeda; Dani mengambil jurusan bisnis, sedangkan Moni anak fakultas teknik, tapi Dani lupa teknik apa. Apa semua anak teknik seserius dia? Tapi, setelah dipikir lagi, ia punya teman di fakultas teknik yang setiap malam minggunya melakukan stand-up comedy di salah satu kafe langganannya.

“Mon?” panggil Dani. Moni hanya menggumam. Dani melanjutkan, “Kenapa kamu mendaftarkan diri di cariteman.com, sih? Aku nanya bukan karena apa-apa loh, cuma ingin tahu saja.”

Sebelum menghubungi Moni, Dani sudah membaca karakter singkat Moni, tentu saja. Moni memiliki rambut bergelombang melebihi bahu, warnanya hitam, dan dibiarkan tergerai. Ia menggunakan kacamata berbingkai hitam. Terdapat sedikit bintik-bintik di sekitar hidungnya. Moni suka es krim vanila dan travelling. Itu saja yang ia tahu. Dani tidak mengerti dan tidak menyangka orang sependiam Moni mau bepergian berdua saja dengan orang yang sama sekali tidak ia kenal. Terlebih dengan seorang laki-laki. Terlebih lagi, dengan Dani.

Dani, sama seperti kebanyakan laki-laki, pasti akan memanfaatkan kesempatan jika menemukan peluang untuk bisa dekat dengan perempuan cantik.

Gak ada alasan khusus, kok, cuma iseng,” jawabnya tak acuh, tanpa menoleh.

Hening.

Oh, I’m so not gonna let this happen again. Dani berusaha memancing pembicaraan.

“Kamu gak takut?”

Gak.”

“Kalau ternyata kamu diajak pergi sama orang yang niatnya gak baik, gimana?”

“Teriak. Tendang di situ. Telepon polisi.”

“Kalau kamu kalah jumlah dengan mereka, gimana?”

“Tinggal–” Moni tiba-tiba berhenti berbicara, kemudian menoleh menatap Dani sambil memicingkan mata. “Kenapa kamu nanya hal yang bukan-bukan?”

Gak ada alasan khusus, kok, cuma iseng,” Dani mengikuti gaya bicara Moni, lalu tertawa.

.   .   .

Dengan malas, aku melanjutkan perjalananku yang sebenarnya tak tentu arah. Pada akhirnya aku tahu tentang misteri jari-jari yang terlihat mencengkeram dengan begitu kuat yang tadi kulihat di jalan. Jari-jari itu adalah akar pohon tua, yang terlihat sangat tebal dan kokoh karena sudah terlalu tua. Kumbang memberi tahuku tadi siang, saat ia sedang mencari bunga untuk dicumbu.

Aku menunduk, merasakan perubahan tekstur jalan yang kutapaki. Coklat berganti abu, tanah berganti aspal. Di depanku, banyak benda-benda yang melesat dengan begitu cepat, aku bahkan tidak sempat mengetahui benda tersebut. Aku terhenyak.

Aku mendeteksi adanya makanan di sisi seberang jalan, semut-semut lain meninggalkan jejak untuk kuikuti. Namun, aku tidak tahu cara agar aku dapat menyeberangi jalan yang sangat lebar dan sering dilewati benda cepat ini. Di saat-saat seperti ini, aku berharap ada manusia yang dapat menyentilku agar bisa sampai seberang sana.

Aku terdiam, mencoba menunggu saat yang tepat untuk melanjutkan perjalanan. Aku mencoba untuk tidur karena kupikir jalanan akan lebih sepi di malam hari. Kupaksa kaki-kaki mungilku untuk berjalan sedikit lagi mencari lubang yang nyaman untuk bersembunyi dan beristirahat. Perlahan, aku menutup mataku dan membiarkan diriku dilahap lelap.

Dua jam kemudian aku terbangun dan, ketika aku mendongak, aku dapat melihat remang cahaya bulan menerangi jalan, namun masih kalah terang dengan cahaya lampu. Dengan linglung karena baru bangun tidur, aku berjalan menyeberangi jalan. Beberapa langkah dari tepi jalan, aku berhenti dan berdansa sebentar, memberi apresiasi untuk diriku yang sebentar lagi akan mendapat banyak makanan dari surga di depan mata, sebuah restoran.

Di tengah-tengah dansa, aku disoroti oleh cahaya lampu terang sekali dari sebelah kanan. Aku berdansa dengan lebih semangat, membayangkan aku sedang berada di atas panggung, diterangi cahaya lampu sorot, dan ditonton oleh banyak pengunjung.

Lalu, semuanya gelap.

.   .   .

“Gin, kamu sudah dengar gosip hari ini? Katanya, tadi malam satu semut api di daerah Puncak mati tergilas mobil sedan silver yang sedang melaju kencang.”

“Oh.”

.   .   .

Terima kasih sudah mampir di blog saya! Ini platform ketiga saya. Jika kamu ingin membaca tulisan-tulisan saya yang lain, silakan kunjungi:

Medium   –   Wattpad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s