Write to Express, Not to Impress

Asri kecil berdiri di koridor di depan kelasnya, melihat beberapa kertas yang tertempel di jendela. Perlahan mulutnya menyunggingkan senyum, memamerkan sederet gigi yang rapi karena, tidak seperti anak kecil pada umumnya, ia benci makan permen (kecuali dua merk permen, silakan tebak). Kertas-kertas itu adalah tugas pelajaran Bahasa Indonesia murid kelas 3A, tentang menulis surat dan mengarang cerita. Ketika itu ia menulis pengalaman keluarganya berlibur di Bali (hei, ia bahkan belum pernah ke Bali sebelumnya). Entah mengapa, melihat karyanya dipajang dan dapat dibaca oleh banyak orang menimbulkan rasa hangat di dalam hatinya.

Sejak dulu saya memang suka menulis. Saya menulis untuk mengungkapkan hal yang tidak bisa saya sampaikan secara lisan. Saya menulis karena saya dapat dikatakan pendiam jika dibandingkan dengan teman-teman saya (kecuali kepada teman yang sudah saya kenal dekat). Saya menulis karena ekspresi wajah saya terlalu datar untuk menyampaikan kesan atas apa yang benar-benar saya rasakan kepada lawan bicaranya, yang seringkali membuat saya kesal terhadap diri saya sendiri. Saya menulis karena saya suka membaca dan saya ingin bisa memutar ulang hal-hal yang telah saya alami dengan membaca tulisan saya di masa itu.

Saat kelas 3 SMP, saya pernah diminta membacakan cerpen yang saya buat di depan teman-teman saya di kelas. Secara garis besar, cerpen tersebut hanya menceritakan tentang pengalaman saya mendapat nilai jelek saat ujian dan saya sangat merasa bersalah kepada orang tua saya. Kamu tahu lanjutannya? Saya tidak sanggup menyelesaikan membaca cerpen saya hingga akhir dan harus digantikan oleh teman saya… karena saya menangis saat membacanya! Hahaha. Kadang saya merasa geli mengingatnya.

Saya sering sekali menulis karena impuls sesaat, biasanya karena tiba-tiba muncul inspirasi yang terus mengganggu hidup saya, membuat hidup saya tidak tenang, sebelum saya berhasil menumpahkan semuanya. Banyak dari ide mentah tersebut yang masih bisa dikembangkan, namun di beberapa waktu saya malas untuk mengembangkan dan melanjutkan cerita yang sudah saya mulai. Itu adalah salah satu hal yang ingin saya kurangi: saya ingin menyelesaikan hal yang sudah saya mulai. Hal itu sulit, setidaknya dalam konteks menulis, karena saya lebih sering menulis untuk bersenang-senang.

Saat saya menemukan situs ini, mungkin saat SMA atau awal kuliah, saya merasa terinspirasi dengan semua tulisan yang ada di situs ini. Harus saya akui semua orang yang menulis ini memiliki pemikiran yang hebat, setelah membaca tulisan-tulisan mereka. Semua orang memiliki cerita untuk dibagikan, untuk dijadikan pembelajaran bagi pembacanya.

Juga, dijadikan motivasi bagi orang lain untuk berbagi ceritanya pula.

Bagaimana dengan saya?

Saya kabur!

Entah mengapa, ketika ingin mempublikasikan sesuatu di situs ini, saya merasakan tekanan yang besar untuk menulis hal yang berbobot, seperti tulisan-tulisan yang sebelumnya saya baca. Saya tidak mengerti mengapa saya merasakan hal tersebut, padahal tidak ada siapapun yang memaksa saya harus membuat rangkaian kalimat yang penuh dengan rima, kata-kata asing yang jarang digunakan manusia, atau berbagi pengalaman moral sekelas Dalai Lama. Saya merasa saya tidak bisa menulis untuk bersenang-senang di sini!

Lalu, apa yang saya lakukan? Apakah saya berhenti menulis?

Ya dan tidak. Ya, saya tidak menulis di situs ini, tapi saya menulis di situs lain yang, bagi saya, terkesan lebih santai dan lebih bebas mengungkapkan apapun. Situs itu adalah situs untuk membuat blog yang sangat populer dengan post dari orang-orang seperti Mas Gun, penuh dengan meme, dan lain-lain. Bisa tebak? Hahaha.

Tetapi, akhir-akhir ini saya tidak bisa login di situs tersebut, padahal saya memiliki banyak hal untuk dipublikasikan. Pada akhirnya, saya kembali lagi ke Medium.

.   .   .

16jgbbp1iumket7xoiggvaq

Sumber: quotesgram.com

Setiap harinya, saya menargetkan saya harus menulis minimal 1000 kata. Saya tidak membatasi diri saya harus menulis sesuatu yang penting atau layak dibagi. (Hell, bahkan saya tidak tahu parameter sebuah tulisan layak dibagi atau tidak itu apa saja. Hal yang saya yakini adalah semua tulisan, apapun itu, patut dihargai karena tulisan itu seperti peti harta karun berisi banyak sekali ide dan seseorang tidak akan dapat menikmati isi dari peti tersebut jika tidak memiliki kuncinya, yaitu membaca.)

Saya mendeskripsikan suara paving block yang berderak memprotes ketika saya injak. Saya menceritakan perjalanan air mata yang terlahir dari sudut-sudut mata, kemudian meluncur melalui pipi sebelum akhirnya terjun ke bumi. Saya menggambarkan kekosongan dengan tulisan. Saya menciptakan hujan, bersandar di ceruk bulan sabit sambil memancing bintang-bintang, membujuk huruf-huruf untuk saling berdampingan dengan huruf lainnya, dan melakukan hal-hal lain yang mustahil untuk dilakukan secara eksplisit di dunia nyata.

Saya menulis tentang perjalanan saya yang baru mencapai 753 kata. Masih banyak sekali kata-kata yang harus saling menggauli satu sama lain untuk menghasilkan anak-anak kata yang banyak!

Menulislah, hai kamu yang membaca tulisan ini. Kamu akan terkejut mengetahui betapa banyaknya hal yang bisa kamu bagi kepada orang lain. Menulislah untukmu, untuk teman-temanmu, untuk anak-anakmu kelak, dan bahkan untuk orang yang sama sekali tidak kamu kenal. Kamu tidak akan pernah tahu kesempatan apa yang akan datang kepadamu ketika kamu mempublikasikan karyamu. Biarkan saya menyebutkan satu contohnya: saya pernah meng-update status saya di Facebook dengan kata-kata penuh rima dan makna, membuat guru les biola saya tertarik dan mengirim pesan kepada saya. Beliau mengajak saya untuk berkolaborasi membuat sebuah lagu! Apapun dapat terjadi, tapi apapun itu adalah bonus. Hal yang terpenting adalah nulis, nulis, dan nulis lagi yang banyak!

Kamu tidak perlu takut akan se-sampah atau se-brilian apa tulisanmu itu. Saya yakin tidak ada penulis yang langsung dapat membuat tulisan yang laku bagi banyak orang. Saya yakin semua orang bisa menjadi penulis, terlahir menjadi seorang penulis, dan setidaknya pernah menulis meskipun hanya satu kata, minimal menulis namanya di pohon tua di taman dekat rumah atau di tembok dekat trotoar. Hal yang perlu kamu lakukan adalah menulis satu kata lagi, satu kata tambahan lagi, sedikit imbuhan dan konjungsi, lalu kata lagi, dan lagi, dan lagi!

“Pagi ini aku memperhatikan uap di atas secangkir coklat panas. Mengepul, lalu menghilang. Hal yang membuatku mengetahui bahwa uap tersebut pernah ada sebelum ia hilang adalah aroma yang menguar darinya. Manis.

Aku pikir manusia memiliki hidup sesingkat uap. Terlalu sebentar, terkadang tidak lebih dari satu kedipan mata. Tapi, tidak seperti uap, manusia punya kemampuan untuk menciptakan memoar hidupnya dengan menciptakan karya. Karya akan mengharumkan namamu, mengalahkan parfum termahal sekalipun, karena harumnya karya akan tetap ada meskipun jasadmu telah tiada.

Tapi, seperti yang kita tahu, tidak semua uap menguarkan aroma harum. Beberapa bau, menyesakkan napas, atau bahkan tidak ada aroma sama sekali.

Apa aromamu?”

— Asri F. Septarizky

.   .   .

Terima kasih sudah mampir di blog saya! Ini platform ketiga saya. Jika kamu ingin membaca tulisan-tulisan saya yang lain, silakan kunjungi:

Medium   –   Wattpad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s