Menentukan Pilihan

Lebih baik warna apa ya, biru atau merah?

Mana yang harus kupilih, b atau c?

Tadi siang Kika menawarkan posisi ketua divisi untukku, terima atau tolak?

Pizza atau martabak?

Kuliah, jangan?

Saya termasuk orang yang ragu dalam menentukan pilihan. Kalau tidak salah saya pernah melakukan semacam psikotes dan hasilnya menyatakan bahwa saya adalah orang yang penuh pertimbangan, mungkin dapat dikatakan “terlalu banyak mikir“, dan plin-plan dalam memutuskan suatu hal. Saya yakin ribuan orang di sisi lain bumi juga memiliki karakter yang sama dengan saya.

Setiap orang pasti memiliki preferensi masing-masing yang mempengaruhi hal apa yang akan ia lakukan dalam hidupnya, begitu pula dengan saya. Kondisi saat itu pun dapat mempengaruhi pilihan apa yang akan kita ambil. Saya yakin orang yang membaca blog saya sudah mengerti akan hal itu.

Bagi saya, tidak pula semua keputusan sulit untuk diambil. Saya lebih mudah untuk menentukan hal-hal yang berkaitan dengan diri pribadi, tanpa melibatkan orang lain secara langsung. Contoh yang sangat sederhana adalah menyikat gigi.

Mengaku sajalah, ada kalanya kita malas untuk menyikat gigi, apalagi ketika kita sampai rumah saat larut malam, lelah sehabis menghadiri forum dengan kawan-kawan di kampus, dan rasanya ingin langsung melompat ke kasur dan tidur. Padahal, kita sudah tahu konsekuensi logis yang harus kita tanggung jika kita malas menyikat gigi. Apa yang akan kita hadapi di masa depan tergantung dengan pilihan kita saat ini:

pilih keuntungan jangka pendek atau keuntungan jangka panjang?

Untuk seseorang yang bahkan malas untuk membeli makanan bagi diri sendiri, padahal saat itu sedang lapar-laparnya, dan memilih untuk melakukan pesan-panggilan, dapat dipastikan bahwa seseorang tersebut akan memilih hal yang menghasilkan keuntungan yang bisa dengan segera ia dapatkan. Benefit jangka pendek, kata kakak tingkat saya.

Most people choose what they want most in the moment, rather than what they want most.

–Cyndi Perlman Fink

Jika kamu bertanya pada saya, bagaimana dengan saya sendiri? Apakah saya puas dengan pilihan-pilihan yang saya tentukan? Apakah ada situasi yang ingin saya ubah karena ketidaktepatan keputusan yang saya ambil di masa itu?

Saya bukan orang yang paling bijaksana dan bukan pula orang yang paling dewasa di dunia ini. Saya memiliki beberapa hal yang saya sesali dan ingin saya perbaiki, namun ada pula keputusan yang saya bersyukur karena telah mengambilnya. Banyak orang berkata bahwa kita harus hidup tanpa penyesalan, bahwa penyesalan-penyesalan itu hanya akan membebani hidup kita dan mungkin akan menghambat kita untuk melangkah. Saya yakin kita sudah memiliki pengalaman yang cukup untuk meramalkan apakah keputusan yang ingin kita ambil akan berdampak pada kebanggaan atau penyesalan di akhir nanti.

Namun,

hal yang terjadi pada saya adalah saya sering sekali mengambil keputusan yang saya yakin akan saya sesali di akhir. Saya tahu hal apa yang harus saya lakukan, saya tahu hal apa yang akan terjadi jika saya tidak melakukan sesuatu sesuai dengan rencana, dan saya tahu hal apa yang akan saya dapatkan nantinya. Terkadang manusia sebodoh itu (atau, saya memang sebodoh itu).

Saya belum menemukan alasan yang tepat mengapa saya tampaknya selalu memilih keuntungan jangka pendek dibandingkan dengan keuntungan jangka panjang dalam keadaan sadar. Saya sangat penasaran dan ingin mempelajari psikologis manusia, mempelajari diri saya sendiri, dan mengetahui hal mendasar yang menyebabkan seseorang melakukan kesalahan yang, mungkin, menjadikannya seorang manusia.

.   .   .

Konsisten

Menurut saya, hal tersulit pada tahapan setelah menentukan pilihan adalah konsisten dalam menjalani pilihan tersebut.

Saya sendiri, saya akui kembali, bukan orang yang paling stabil di dunia. Di beberapa waktu, saya mengeluhkan konsekuensi yang harus saya pikul karena pilihan saya sendiri. Suatu saat, saya pernah lari dari pilihan saya sendiri karena saya merasa saya tidak mau menjalankannya (dan tentu saja gagal, karena lari dari kenyataan adalah ilusi).

Berdasarkan pengalaman saya, saya ingin menekankan bahwa kita harus memikirkan baik-baik risiko yang akan kita hadapi atas pilihan kita. Jangan biarkan orang lain mempengaruhi pilihan kita, meskipun bertanya pendapat mereka tentang satu dan dua hal tidak menjadi masalah. Menurut saya, tidak apa-apa jika kita membutuhkan waktu lebih lama untuk menentukan pilihan, memikirkan dampak apa yang harus kita hadapi saat menjalani hal tersebut, terutama jika hal tersebut berhubungan dengan orang lain.

Pada Juli 2015, teman saya menawarkan posisi Bendahara Umum di suatu organisasi di kampus. Bendahara Umum merupakan posisi ketiga tertinggi setelah Ketua dan Sekretaris Umum. Ketika pertama kali mendengar hal tersebut, saya gembira bukan main karena kesempatan untuk menjabat sebagai Bendahara Umum bukan hal yang terjadi lima kali sehari dalam hidup. Saya juga senang menjalani hal yang belum pernah saya coba sebelumnya dan saya pikir, dengan menjadi Bendahara Umum, saya dapat memperoleh banyak pelajaran tentang kepemimpinan, organisasi, dan bekerja sama dengan orang lain.

Saya tidak bertanya kepada Bendahara Umum di kepengurusan sebelumnya tentang makna yang sebenarnya dari posisi itu dan hal apa yang harus siap untuk saya hadapi ketika saya memutuskan untuk menerima jabatan tersebut. Saya hanya bilang “iya” karena menuruti insting saya dan karena suatu kutipan anonim berbunyi, “If opportunity seems scary, take it.”

Bagaimana keberjalanannya?

Kalau diibaratkan dengan perenang, saya berhenti menggerakkan tangan dan kaki saya sebelum mencapai garis finish, membiarkan air memeluk saya erat-erat.

Serius. Saya kehilangan seluruh motivasi saya untuk melakukan apapun saat itu. Pikiran saya kosong dan saya tidak bisa mengerjakan hal yang produktif. Meninggalkan amanah yang sudah dipercayakan kepada saya adalah salah satu dampak terbesar yang dapat terjadi saat saya tidak memikirkan dengan matang tujuan saya mengambil amanah tersebut.

Ah ya, salah satu hal penting yang harus kamu pikirkan sebelum mengambil keputusan adalah tujuan dalam mengambil keputusan tersebut. Jika tujuanmu sudah kuat, apapun yang akan terjadi setelah itu pasti akan berusaha kamu hadapi, seberat apapun itu.

Adanya tujuan yang jelas membuatmu lebih mudah untuk konsisten menjalankan pilihanmu karena kamu selalu bisa mengingat kembali tujuan yang ingin kamu capai dengan memilih hal tersebut.

.   .   .

Mungkin tulisan saya terkesan tidak mengerucut pada satu kesimpulan karena saya sendiri sedang mencari jawaban atas cara saya menyikapi suatu pilihan, tetapi di sini saya ingin mengajak kamu berpikir bersama-sama dan mungkin kamu bisa berbagi pikiranmu tentang “pilihan” melalui komentar di bawah. 🙂

.   .   .

Terima kasih sudah mampir di blog saya! Ini platform ketiga saya. Jika kamu ingin membaca tulisan-tulisan saya yang lain, silakan kunjungi:

Medium   –   Wattpad

(Sumber gambar: quotesgram.com)
Advertisements

One thought on “Menentukan Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s