Menghargai

Belakangan ini, saya ditinggal pergi oleh teman saya karena liburannya telah usai dan ia kembali ke kampung halamannya di suatu tempat yang jauh, dipisahkan oleh langit dan samudera. Saya sangat terpukul saat itu; sebelum ia hadir di hidup saya, saya selalu sendiri ke manapun saya pergi. Kemudian ia hadir, mengganggu keseimbangan hidup saya, mengganggu apa yang sebelumnya sudah saya anggap normal. Menyeimbangkan kembali hidup saya terasa sulit.

Jika saya tarik-mundur waktu, saya tetap terkejut ketika saya menyadari saya sering menghabiskan waktu sendirian; entah di sekolah, di kafe, di rumah, atau di manapun tempat yang pernah saya kencingi toiletnya. Saya pikir sebenarnya kenyataan tersebut tidak semengagetkan itu, hanya saja selama ini sulit untuk mengakuinya.

Sure. Who wants to admit to themselves that they are lack of friends and feeling lonely? No way in hell.

Kenapa? Kenapa? Kenapa? Saya memutar otak; lagi-lagi tidak mau jujur dengan diri sendiri meskipun sebenarnya saya tahu alasan saya tidak punya banyak teman–atau pernah punya banyak teman, namun saya kehilangan mereka satu per satu.

“Kemampuan sosial kamu gak ada. Kamu gak empati ke orang lain dan orang lain pun gak respek sama kamu,” akhirnya salah satu teman dekat saya berkata.

Saya diam. Yes, she is too right. 

Lalu saya menangis. Lama. Please, this is not happening. This can’t be me. I can’t be like this. This is not me. I am not like this. Please, please tell me that you are wrong, that I am not as horrible as I think I am. Namun, tentu saja, saya tahu hal itu benar.

Selama bertahun-tahun, saya sering memandang orang lain dengan sebelah mata. Saya hanya berbicara dengan mereka ketika saya butuh saja dan saya selalu merasa bahwa saya akan baik-baik saja meskipun saya sering sendiri. Setidaknya saya punya beberapa teman dekat yang saling mendukung satu sama lain. Tetap saja teman dekat saja tidak cukup; saya butuh orang lain di luar circle tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari saya.

Kembali ke masa ketika teman saya kembali ke negaranya. Beberapa hari setelah itu, saya mengikuti pelatihan tentang self-awareness, yaitu pelatihan untuk mengenal diri saya. Saya tidak ada ekspektasi tertentu; saya bahkan tidak tahu apa-apa tentang pelatihan tersebut ketika saya mendaftarkan diri. Akan tetapi, hasil yang saya dapat jauh bermakna, melampaui uang yang saya keluarkan.

Salah satu hal yang saya kenali dari diri saya sendiri terkait dengan hubungan saya dengan orang lain adalah saya sering menganggap orang lain tidak penting dan tidak berharga bagi hidup saya. I took their kindness for granted. Saya jarang merasa perlu untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang lain, terlebih orang-orang yang dekat dengan saya. Ketika berjalan, saya jarang melihat siapa yang ada di kanan dan di kiri saya; hanya menatap lurus, tidak peduli orang-orang di sekeliling saya. Saya lupa bahwa mereka pun manusia, seperti saya, yang juga ingin dihargai kehadirannya.

Sekarang, ketika saya berpapasan dengan orang lain, saya menatap matanya dan tersenyum. Atau saya sapa, jika saya mengenalnya. Ketika sedang berbicara dengan orang lain, saya menaruh handphone saya, mendengarkan dengan posisi tubuh terbuka,menatap mata orang yang sedang berbicara, dan memberi respon sebaik mungkin.

Saya ingin dihargai; oleh karena itu saya belajar untuk menghargai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s