Para Perakit

shenzhen
Sumber gambar: i.ytimg.com

Beberapa hari yang lalu, teman saya bercerita tentang salah satu kota di Cina yang menjadi pasar elektronik terbesar di dunia, Shenzen. Katanya, kalau kamu ingin memiliki sebuah iPhone, kamu bisa saja membeli komponen-komponen inti dari ponsel tersebut (baterai, layar, dan lain-lain) dan merakitnya sendiri. Seseorang pernah melakukannya dan berhasil. Biaya yang ia keluarkan tentu lebih murah dibandingkan dengan membeli ponsel yang sudah jadi. Selain itu, ia mendapat kebanggaan tersendiri karena menggunakan karyanya sendiri.

Tentu tidak semua orang seperti itu – mungkin hanya segelintir orang dengan minat khusus yang sudi melakukannya. Sebagian besar orang memilih untuk membeli ponsel jadi karena alasan kepraktisan.

Kemudian tiba-tiba terpikirkan oleh saya, bagaimana kalau hal itu juga terjadi pada manusia ketika mereka memilih teman hidup?

Dalam memilih teman hidup, manusia ingin pasangan yang tepat bagi dirinya. Seseorang yang memiliki tujuan dan nilai-nilai hidup yang sama karena akan sulit untuk menjalani hidup bersama hingga ajal menjemput jika mereka tidak memiliki core value yang sama.

Paling tidak secara kasar manusia dapat dibagi menjadi dua, yaitu manusia yang sedang menata hidupnya dan manusia yang telah mengetahui hal yang ingin dicapainya dan sedang dalam proses meraih hal itu. Butuh waktu dan proses yang berbeda bagi setiap orang untuk menemukan seseorang yang memiliki visi yang sama. Bahkan tidak semua orang sudah tahu tujuan dan nilai hidupnya.

Dalam memilih pasangan hidup, beberapa manusia menginginkan pasangan yang sudah tahu langkah-langkah yang akan ia jalani agar bisa membayangkan dan mengukur apakah manusia ini dapat melihat mereka berdampingan dan saling mendukung tujuan hidup masing-masing di masa depan. Beberapa ingin mencari orang yang sudah sukses, sehingga tidak perlu repot-repot “merakit ponsel” dan bisa langsung “mengoperasikan” saja.

Tidak terbayang jika semua orang ingin yang serba-jadi dan tidak menghargai proses dibalik “produk” kualitas terbaik yang mereka “gunakan” sekarang. Bagaimana nasib orang-orang yang masih menata hidupnya dan membutuhkan bimbingan? Bagaimana nasib ponsel yang masih berupa pecahan-pecahan dari beberapa bagian yang belum dirakit secara utuh jika tidak ada yang mau melakukannya?

Bersyukurlah karena di dunia ini ada para perakit. Mereka adalah orang-orang yang menghargai proses. Mereka adalah orang-orang yang bermata jeli, yang bisa mengenali sesuatu yang berharga, yang mungkin bagi orang lain terlihat tidak berharga karena mereka tidak tahu cara membuatnya menjadi berharga.

Bersyukurlah karena para “perakit” mau membantu membimbing manusia-manusia yang masih bingung akan tujuan hidupnya hingga manusia tersebut mencapai kesuksesan pada akhirnya. Mereka adalah orang-orang terbaik karena mereka rela mencurahkan tenaga, waktu, dan pikiran mereka untuk membantu mengembangkan kapasitas manusia yang sebelumnya tidak lebih dari kepingan-kepingan yang belum utuh. Di dunia yang serba-ingin-cepat dan serba-ingin-semua-ideal, para perakit termasuk spesies langka.

Jika kamu menemukan paling tidak seorang “perakit” di hidupmu, hargailah ia dengan mencoba mengikuti saran yang ia berikan sebelum kamu menentukan jalanmu sendiri. Ia menemukan sesuatu yang berharga di dalam dirimu yang tidak dilihat orang lain dan ia mau membantumu untuk “merakit” hidupmu agar orang lain dapat merasakan kebaikanmu seperti yang ia rasakan. Tidak banyak orang yang mau repot-repot melakukan hal tersebut. Kamu beruntung kalau kamu menemukannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s