Dani, Moni, dan Semut Api

Aku menatap ke depan.

Urat-urat si pemilik jari di hadapanku menyembul. Cengkeramannya begitu kuat, sampai-sampai aku mundur beberapa langkah. Aku tidak bisa mengukur seberapa besar tangan tersebut dibandingkan dengan tubuh mungilku. Aku takut sekali, alih-alih tetap mempertahankan cengkeramannya, jari-jari itu akan melepaskannya dan malah mencengkeram, meremukkan badanku. Aku bergidik.

Aku memperhatikan jari-jari itu selama satu menit utuh, ingin sekali memastikan keberlangsungan hidupku selama minimal beberapa hari ke depan. Jari-jari itu tidak bergeser satu milimeterpun. Aku menarik napas lega, kemudian melanjutkan perjalananku mencari makanan.

Semenjak aku diadakan dari ketiadaan (hei, jangan salahkan aku jika aku tidak tahu proses diriku terbentuk), aku jarang bisa melihat makhluk hidup lain secara utuh dari dekat tanpa perlu menengadah. Bisakah kamu bayangkan sulitnya hidup jika kamu bahkan tidak bisa melihat apa yang datang menghampirimu. Aku harus berhati-hati setiap detiknya, di manapun aku berada, dan itu sangat melelahkan. Kadang-kadang, saat aku berpapasan dengan temanku, kami selalu bertukar sapaan sejenis “kemarin Polo mati tenggelam di genangan air” atau “akhirnya aku tahu bagaimana rasanya jadi burung berkat laki-laki muda yang menyentilku dari tangannya”.

Sudahkah kamu berhasil menebak siapa aku, Monster-Tidak-Peka-Penyiksa-Binatang-Kecil?

Ya, aku semut api yang tidak sengaja kamu injak tadi pagi.

.   .   .

Continue reading Dani, Moni, dan Semut Api

Advertisements