Tentang Menulis

Hari ini adalah hari ke-2 sejak saya melibatkan diri ke dalam 30-Day Writing Challenge (30 Hari Tantangan Menulis) yang diadakan oleh Mas Rezky Firmansyah. Pagi ini saya mendapatkan pesan dari General Sari; isinya sebagai berikut.

Day 2 – Mulailah dengan Niat dan Alasan

Setiap apapun yang dilakukan akan bernilai apabila dimulai dengan niat. Tanpa niat, suatu hal akan berjalan tanpa makna, tanpa energi.

Miliki niat yang kuat agar bisa tembus 30DWC. Gali alasan apa yang harus membuatmu berhasil tembus 30DWC. Atau dengan mudahnya, carilah “STRONG WHY kenapa saya harus menulis?”

Ayo kenapa?

Beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan buku Quarter-Life Breakthrough karya Adam ‘Smiley’ Poswolsky. Buku tersebut intinya menjelaskan cara yang dilalui oleh penulis dalam mengatasi kebingungan antara menghubungkan minat dan bakat (gifts), kebermanfaatan diri bagi orang lain (impact), lingkungan kerja yang diinginkan (community), dan kualitas hidup yang ingin dicapai (quality of life) di umur dua puluhan. Sambil membaca buku tersebut, saya menjawab pertanyaan yang ia berikan untuk membantu pembaca menggali potensi dan hal yang ingin ia prioritaskan saat ini.

Saya menjawab pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali karena saya menulis di berbagai tempat: di buku, di catatan kecil, dan di blog. Beberapa pertanyaan saya jawab dengan hal yang berbeda; namun, ada beberapa hal yang selalu konsisten menjadi jawaban saya. Salah satunya adalah ‘menulis’ ketika Smiley bertanya hal yang pembaca pikir adalah bakatnya. Bakat lain yang saya akui saya miliki adalah kesukaan saya dalam berinteraksi dengan orang lain dan belajar hal-hal baru dari mereka.

Saya tidak tahu mengapa saya selalu mengaku saya bisa menulis dengan baik dan bercita-cita untuk menerbitkan minimal satu buku dalam hidup saya. Menulis adalah hal yang terasa seperti kebutuhan–saya selalu kembali menulis dan menulis. Rasanya pusing jika tidak melakukannya.

Selain karena ‘pusing’, ternyata saya pernah menuliskan alasan saya menulis.

Mengapa aku menulis? Aku memiliki kekhawatiran yang kerap kali muncul ketika ilusi visual timbul di dalam benakku. Ia memberontak, menginginkan kebebasan. Begitu banyak imaji dan fantasi yang menyampaikan permohonan kepadaku agar mereka diberi kesempatan untuk hidup. Aku, mungkin juga kamu, termasuk ke dalam golongan segelintir manusia yang tidak tega mengaborsi kata-kata. Dengan senang hati, aku memberikan mereka kesempatan untuk menatap dunia melalui barisan-barisan hitam di atas putih, seperti yang tengah kulakukan saat ini.

Menghidupkan suatu kata membuatku bertahan hidup.

Sangat puitis, ya? Haha. Sudah lama saya tidak menulis dengan gaya seperti itu; sekarang saya sering menulis dengan lugas. Jika disederhanakan dan dikaitkan dengan bakat yang saya pikir saya miliki, saya menulis karena hal itu secara naluriah terdapat di dalam diri saya. Saya senang melakukannya, senang mempelajarinya, dan ingin orang lain merasakan manfaat dari tulisan yang saya buat.

Saya mulai berpikir untuk menulis dengan serius ketika saya bertemu dengan seorang penulis ketika saya menghadiri acara Peluncuran Kurikulum Nasional dan Manual Pelatihan Budi Daya Berkelanjutan dan Pasca-Panen Kopi Arabica yang diadakan oleh SCOPI di Jakarta minggu lalu. Penulis tersebut bernama Tyas Arumsari dan saya mendapatinya sedang mewawancarai salah satu pemilik roastery. Ia membuat saya berpikir, Saya suka menulis dan saya suka belajar hal-hal baru dari setiap orang yang saya temui. Jika saya menjadi penulis, saya dapat bertemu orang-orang menarik sebagai bahan riset saya, kemudian saya bisa menuliskan hal yang saya temukan agar dapat diambil pelajarannya oleh pembaca. Di situ ada terdapat ketiga unsur yang sudah dipenuhi–saya masih perlu bertanya tentang diri sendiri tentang quality of life yang saya inginkan dan apakah hal tersebut dapat dicapai jika saya menjadi penulis.

Jadi, mengapa saya menulis? Secara sederhana, tulisan adalah hal yang saya miliki saat ini dan bisa saya berikan kepada orang lain. Saya menulis untuk berbagi, untuk membuka diri saya terhadap orang lain, agar saya dapat terkoneksi dengan manusia-manusia lain yang membaca tulisan saya.

Mengapa kamu menulis?

Aci
Penulis
Aug 28, 2017. 4.07 PM. Dapur Eyang.

Advertisements

What’s Your Name?

My name is Asri, and I have a hard time being Asri.

Asri (pronounced Ash-ree) is an Indonesian name which means beautiful and pleasant to look at, usually related to nature. I used to hate the name; it sounds old-fashioned! It is like Margaret or Katherine in English, I suppose. Probably no Millennial parents will give their daughter that name unless they are old at heart.

Asri also means ‘by time’ in Arabic and is a Surah in Quran.

‘By time, 
Indeed, mankind is in loss,
Except for those who have believed and done righteous deeds and advised each other to truth and advised each other to patience.’

– Recited from Al-‘Asr: 1-3

I started to feel okay being named ‘Asri’ (lol) when foreigner friends of mine pronounced my name beautifully. I fully understood that it was just how they speak, that it was their accents, but I could not help but love the sound of it. I also thought there is something classic, Indonesian, and authentic about Asri, and I quite like it.

Moreover, the name Asri reflects a personality I wish I would have: the sense of contentedness and calmness only nature could provide to a person, which makes him love being in the presence of nature. Becoming a person who can bring out those feelings from someone is something I still need to work on.

Perhaps you or your friends also hate the name given by your parents. (I once read a novel and frowned, ‘Why on earth would parents name their son ‘Uranus’? I mean, Uranus?!’) Yet, maybe you just have not yet realised that your name more likely will shape who you are. Finding meanings behind it and actually becoming it sounds quite a journey, don’t you think?

Asri
Working on being me
Aug 27, 2017. 10.23 AM. Home.