Why My Younger Self Would Be Proud of Me Today

You know what? I often feel insecure about how I look, what I have, and what I have done in my life. I feel like I haven’t done many important and impactful activities, talks, or anything. This life I am living is only for me, I often thought, and there are not so many people affected by how I have lived so far.

Then I found this question, ‘What would your younger self be proud of you for today?’ and it led me into thinking that maybe I haven’t been grateful enough for what I have accomplished so far.

If my younger self looked at me right now, probably she would be amazed because I have managed to keep writing until today. I have left many traces of my writing on 7 different platforms just because. I had had my own book; it is an antology. When my first writing was published in my school–as in, my teacher sticked my hand-written story on the window outside my class, along with other students’ works–I had never thought I would keep writing and just be like the way I am today.

I remember a friend of mine told me that she loved reading my stories because it had some kind of style that she could only find in my writings. I didn’t understand what she meant back then (and now I also don’t), but it gave me warm feeling. I feel like maybe, just maybe, writing is my world and I should keep sharing my ideas, thoughts, experiences, stories, or whatsoever for the rest of my life. It is going to be amazing. And I love reading what I have written when I was younger. (My choice of words could be that funny. Or hyperbolic. Or melodramatic. Or whatever.)

So, Aci, thank you for sharing your thoughts to the world until this very second. Even though you will never know who has read your writings, I really hope it would leave good traces. Keep writing and be naked! You too!

Advertisements

Tentang Menulis

Hari ini adalah hari ke-2 sejak saya melibatkan diri ke dalam 30-Day Writing Challenge (30 Hari Tantangan Menulis) yang diadakan oleh Mas Rezky Firmansyah. Pagi ini saya mendapatkan pesan dari General Sari; isinya sebagai berikut.

Day 2 – Mulailah dengan Niat dan Alasan

Setiap apapun yang dilakukan akan bernilai apabila dimulai dengan niat. Tanpa niat, suatu hal akan berjalan tanpa makna, tanpa energi.

Miliki niat yang kuat agar bisa tembus 30DWC. Gali alasan apa yang harus membuatmu berhasil tembus 30DWC. Atau dengan mudahnya, carilah “STRONG WHY kenapa saya harus menulis?”

Ayo kenapa?

Beberapa hari yang lalu saya menyelesaikan buku Quarter-Life Breakthrough karya Adam ‘Smiley’ Poswolsky. Buku tersebut intinya menjelaskan cara yang dilalui oleh penulis dalam mengatasi kebingungan antara menghubungkan minat dan bakat (gifts), kebermanfaatan diri bagi orang lain (impact), lingkungan kerja yang diinginkan (community), dan kualitas hidup yang ingin dicapai (quality of life) di umur dua puluhan. Sambil membaca buku tersebut, saya menjawab pertanyaan yang ia berikan untuk membantu pembaca menggali potensi dan hal yang ingin ia prioritaskan saat ini.

Saya menjawab pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali karena saya menulis di berbagai tempat: di buku, di catatan kecil, dan di blog. Beberapa pertanyaan saya jawab dengan hal yang berbeda; namun, ada beberapa hal yang selalu konsisten menjadi jawaban saya. Salah satunya adalah ‘menulis’ ketika Smiley bertanya hal yang pembaca pikir adalah bakatnya. Bakat lain yang saya akui saya miliki adalah kesukaan saya dalam berinteraksi dengan orang lain dan belajar hal-hal baru dari mereka.

Saya tidak tahu mengapa saya selalu mengaku saya bisa menulis dengan baik dan bercita-cita untuk menerbitkan minimal satu buku dalam hidup saya. Menulis adalah hal yang terasa seperti kebutuhan–saya selalu kembali menulis dan menulis. Rasanya pusing jika tidak melakukannya.

Selain karena ‘pusing’, ternyata saya pernah menuliskan alasan saya menulis.

Mengapa aku menulis? Aku memiliki kekhawatiran yang kerap kali muncul ketika ilusi visual timbul di dalam benakku. Ia memberontak, menginginkan kebebasan. Begitu banyak imaji dan fantasi yang menyampaikan permohonan kepadaku agar mereka diberi kesempatan untuk hidup. Aku, mungkin juga kamu, termasuk ke dalam golongan segelintir manusia yang tidak tega mengaborsi kata-kata. Dengan senang hati, aku memberikan mereka kesempatan untuk menatap dunia melalui barisan-barisan hitam di atas putih, seperti yang tengah kulakukan saat ini.

Menghidupkan suatu kata membuatku bertahan hidup.

Sangat puitis, ya? Haha. Sudah lama saya tidak menulis dengan gaya seperti itu; sekarang saya sering menulis dengan lugas. Jika disederhanakan dan dikaitkan dengan bakat yang saya pikir saya miliki, saya menulis karena hal itu secara naluriah terdapat di dalam diri saya. Saya senang melakukannya, senang mempelajarinya, dan ingin orang lain merasakan manfaat dari tulisan yang saya buat.

Saya mulai berpikir untuk menulis dengan serius ketika saya bertemu dengan seorang penulis ketika saya menghadiri acara Peluncuran Kurikulum Nasional dan Manual Pelatihan Budi Daya Berkelanjutan dan Pasca-Panen Kopi Arabica yang diadakan oleh SCOPI di Jakarta minggu lalu. Penulis tersebut bernama Tyas Arumsari dan saya mendapatinya sedang mewawancarai salah satu pemilik roastery. Ia membuat saya berpikir, Saya suka menulis dan saya suka belajar hal-hal baru dari setiap orang yang saya temui. Jika saya menjadi penulis, saya dapat bertemu orang-orang menarik sebagai bahan riset saya, kemudian saya bisa menuliskan hal yang saya temukan agar dapat diambil pelajarannya oleh pembaca. Di situ ada terdapat ketiga unsur yang sudah dipenuhi–saya masih perlu bertanya tentang diri sendiri tentang quality of life yang saya inginkan dan apakah hal tersebut dapat dicapai jika saya menjadi penulis.

Jadi, mengapa saya menulis? Secara sederhana, tulisan adalah hal yang saya miliki saat ini dan bisa saya berikan kepada orang lain. Saya menulis untuk berbagi, untuk membuka diri saya terhadap orang lain, agar saya dapat terkoneksi dengan manusia-manusia lain yang membaca tulisan saya.

Mengapa kamu menulis?

Aci
Penulis
Aug 28, 2017. 4.07 PM. Dapur Eyang.

I’ll Write Some More :)

Positivity Now

I was surprised when I checked my email this morning and found an invitation to become an author on Positivity Now, a blog about individual’s every aspect of life. School, work, relationship, mental health… you name it. It’s all about wellness-being, something that has always been piqued my interest. To be invited on such blog warms my heart, and it inspires me to write some more, the way I used to several years ago. (Visit bayart.org if you’re curious or interested.)

I couldn’t resist to smile reading this line on the introduction post: “This is not an elite space, reserved for experts, thought leaders, or professional bloggers. This is a blog for real people who are willing to share themselves honestly and vulnerably.” Vulnerably.

There are lots of drafts on my blog; I only managed to finish writing some of them. That’s why there aren’t many posts on my blog. Why? Simply because I felt so teared up writing about my insecurities and my past failures. Probably I should write something else, something easier, but no. I want to get those out of my head; I want to free myself and accept myself for what I was and am now. It doesn’t mean that I haven’t forgiven myself; I have, but writing those experiences in clear words for the world to see is a different thing. I will do it though, sooner or later.

Writing has always been my thing since I was a kid, and it will always be.

 

10 Ways to Screw Yourself Up

It’s very hard to improve our lives so it can be better, so why don’t we screw ourselves instead?

I have read writings (either books or blogs) about self-improvement. Most of them say that I need to change myself in order to achieve what I want. But, I think I have a freedom to choose because I don’t need to change myself if I don’t want to.

Back then, I didn’t want to change myself. I was happy with what I was even though I knew I didn’t do much to get closer to what I want to be in the future. In short, I chose to screw my life and I enjoyed doing it. After all, it was easier to do what I wanted to do rather than do what I needed to do.

These were what I had been doing for months (not in exact order):

  1. Looking straight to the front when I walked.
    Everywhere I went, I didn’t look around my surrounding. Chances that I may walked past my friends were high because I also did that when I was in campus. Sometimes I didn’t bother to look around and said hello to my friends or acquaintances. It always depended on my mood back then.This also had to do with me being irresponsible. Later about it on number 9.
  2. Being late.
    Whenever I attended classes or made appointments, I usually came few minutes up to one hour later. When I arrived, they would shake their heads in disapproval, complain, or simply didn’t recognise me at all. It hurt, but it was my fault.
    (Note to self: coming late means I don’t respect the person enough to waste their time waiting for me.)
  3. Procrastinating.
    Keeping myself busy was (and is) the worst kind of procrastination because I was caught up in a delusion that I did something useful, while actually I had something else that urgently needed to be done. It was on the top of my to-do list, but I just didn’t want to do it because it seemed overwhelming and hard to tackle.
  4. Watching TV series.
    I couldn’t stop watching Friends when I was in my third year. I even skipped my classes (yes, I was that pathetic) just because I couldn’t take my eyes of Joey, Chandler, etc. It was sad to lose friends because I watched Friends.
  5. Reading comics (webtoon for me), novels, and any kind of stories excessively.
    Again, I couldn’t control myself.
  6. Do not look at people straight in the eye when talking.
    I just didn’t feel comfortable when I looked at them straightly. I think my religious background has a great influence on it, although I didn’t understand why. In my opinion, not doing so means that I position myself lower than my talking partner. For me it’s not effective to avoid looking at someone in the eye. How will others value myself if I don’t even value myself?
  7. Do not exercise regularly.
    Exercising is very tiring and not all the people are looking forward to exhaust themselves. Sleeping on my bed and snuggling under the blanket are very, very preferable.I have been exercising, but I didn’t do it regularly. I only did it whenever I wanted to. For instance, I swam on Sunday with my sisters when my sisters asked me to accompany them, or I ran because I didn’t want to be late.
  8. Do nothing for a very long time.
    How long it would be depends on your perspective. For me all day long was long enough, and sometimes in a day I didn’t do anything beside sleeping, eating, and peeing. Every now and then I couldn’t even tell what’s the difference between me and the cat outside my house.
  9. Being irresponsible.
    Ditching everything I had to do because I just didn’t feel like it. Abandoning my friends because I just didn’t feel like meeting them right now. Turning them down by not doing something they expected me to do (for instance, doing my role in an organisation) because I just didn’t feel like it. Skipping classes and just laying around all day. Oh, joy.
  10. Do not believe in myself.
    I hated myself for what I did on previous list. I didn’t even do what expected myself to do. I felt low, depressed, and helpless… and the saddest thing was I didn’t realise that it was me who made me feel that way. (In the end–after several months!–I realised it though, thankfully.)

It was very easy to screw my life, feel lonely, and be an ass. I had done it for almost a year if I’m not mistaken. It was very easy to do anything that I want to do, ignore others, and pretend that I didn’t need anyone but myself and my very close friends.

Then again, it’s just a mere choice. I can choose to be anything that I want. It only depends on my goal, what I want to achieve.

Just a month ago, I realised that my willingness to do something equals what I achieve. When I looked around my surrounding and I saw that my life isn’t changed at all for God knows how long, I realised that my willingness to change my life, to achieve what I want in life was very weak. I was like a kite without string; wandering around the sky, just following whichever way the wind tells me to go.

It’s okay if that’s what you want in life, but I don’t want that. I have goals. I have dreams. There are 100 things that I want to do and I am going to cross my bucket list one by one.

In the end, I choose to do the exact opposite of my former list. The result is really rewarding. Things that I listed before seems like not a big deal; those are just small things anyway.

But small wins make me feel great. It makes me want to accomplish more and more and more.

Cheers!

Asri F. Septarizky

Menghargai

Belakangan ini, saya ditinggal pergi oleh teman saya karena liburannya telah usai dan ia kembali ke kampung halamannya di suatu tempat yang jauh, dipisahkan oleh langit dan samudera. Saya sangat terpukul saat itu; sebelum ia hadir di hidup saya, saya selalu sendiri ke manapun saya pergi. Kemudian ia hadir, mengganggu keseimbangan hidup saya, mengganggu apa yang sebelumnya sudah saya anggap normal. Menyeimbangkan kembali hidup saya terasa sulit.

Jika saya tarik-mundur waktu, saya tetap terkejut ketika saya menyadari saya sering menghabiskan waktu sendirian; entah di sekolah, di kafe, di rumah, atau di manapun tempat yang pernah saya kencingi toiletnya. Saya pikir sebenarnya kenyataan tersebut tidak semengagetkan itu, hanya saja selama ini sulit untuk mengakuinya.

Sure. Who wants to admit to themselves that they are lack of friends and feeling lonely? No way in hell.

Kenapa? Kenapa? Kenapa? Saya memutar otak; lagi-lagi tidak mau jujur dengan diri sendiri meskipun sebenarnya saya tahu alasan saya tidak punya banyak teman–atau pernah punya banyak teman, namun saya kehilangan mereka satu per satu.

“Kemampuan sosial kamu gak ada. Kamu gak empati ke orang lain dan orang lain pun gak respek sama kamu,” akhirnya salah satu teman dekat saya berkata.

Saya diam. Yes, she is too right. 

Lalu saya menangis. Lama. Please, this is not happening. This can’t be me. I can’t be like this. This is not me. I am not like this. Please, please tell me that you are wrong, that I am not as horrible as I think I am. Namun, tentu saja, saya tahu hal itu benar.

Selama bertahun-tahun, saya sering memandang orang lain dengan sebelah mata. Saya hanya berbicara dengan mereka ketika saya butuh saja dan saya selalu merasa bahwa saya akan baik-baik saja meskipun saya sering sendiri. Setidaknya saya punya beberapa teman dekat yang saling mendukung satu sama lain. Tetap saja teman dekat saja tidak cukup; saya butuh orang lain di luar circle tersebut untuk menjalankan aktivitas sehari-hari saya.

Kembali ke masa ketika teman saya kembali ke negaranya. Beberapa hari setelah itu, saya mengikuti pelatihan tentang self-awareness, yaitu pelatihan untuk mengenal diri saya. Saya tidak ada ekspektasi tertentu; saya bahkan tidak tahu apa-apa tentang pelatihan tersebut ketika saya mendaftarkan diri. Akan tetapi, hasil yang saya dapat jauh bermakna, melampaui uang yang saya keluarkan.

Salah satu hal yang saya kenali dari diri saya sendiri terkait dengan hubungan saya dengan orang lain adalah saya sering menganggap orang lain tidak penting dan tidak berharga bagi hidup saya. I took their kindness for granted. Saya jarang merasa perlu untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan orang lain, terlebih orang-orang yang dekat dengan saya. Ketika berjalan, saya jarang melihat siapa yang ada di kanan dan di kiri saya; hanya menatap lurus, tidak peduli orang-orang di sekeliling saya. Saya lupa bahwa mereka pun manusia, seperti saya, yang juga ingin dihargai kehadirannya.

Sekarang, ketika saya berpapasan dengan orang lain, saya menatap matanya dan tersenyum. Atau saya sapa, jika saya mengenalnya. Ketika sedang berbicara dengan orang lain, saya menaruh handphone saya, mendengarkan dengan posisi tubuh terbuka,menatap mata orang yang sedang berbicara, dan memberi respon sebaik mungkin.

Saya ingin dihargai; oleh karena itu saya belajar untuk menghargai.

Write to Express, Not to Impress

Asri kecil berdiri di koridor di depan kelasnya, melihat beberapa kertas yang tertempel di jendela. Perlahan mulutnya menyunggingkan senyum, memamerkan sederet gigi yang rapi karena, tidak seperti anak kecil pada umumnya, ia benci makan permen (kecuali dua merk permen, silakan tebak). Kertas-kertas itu adalah tugas pelajaran Bahasa Indonesia murid kelas 3A, tentang menulis surat dan mengarang cerita. Ketika itu ia menulis pengalaman keluarganya berlibur di Bali (hei, ia bahkan belum pernah ke Bali sebelumnya). Entah mengapa, melihat karyanya dipajang dan dapat dibaca oleh banyak orang menimbulkan rasa hangat di dalam hatinya.

Sejak dulu saya memang suka menulis. Saya menulis untuk mengungkapkan hal yang tidak bisa saya sampaikan secara lisan. Saya menulis karena saya dapat dikatakan pendiam jika dibandingkan dengan teman-teman saya (kecuali kepada teman yang sudah saya kenal dekat). Saya menulis karena ekspresi wajah saya terlalu datar untuk menyampaikan kesan atas apa yang benar-benar saya rasakan kepada lawan bicaranya, yang seringkali membuat saya kesal terhadap diri saya sendiri. Saya menulis karena saya suka membaca dan saya ingin bisa memutar ulang hal-hal yang telah saya alami dengan membaca tulisan saya di masa itu.

Saat kelas 3 SMP, saya pernah diminta membacakan cerpen yang saya buat di depan teman-teman saya di kelas. Secara garis besar, cerpen tersebut hanya menceritakan tentang pengalaman saya mendapat nilai jelek saat ujian dan saya sangat merasa bersalah kepada orang tua saya. Kamu tahu lanjutannya? Saya tidak sanggup menyelesaikan membaca cerpen saya hingga akhir dan harus digantikan oleh teman saya… karena saya menangis saat membacanya! Hahaha. Kadang saya merasa geli mengingatnya.

Saya sering sekali menulis karena impuls sesaat, biasanya karena tiba-tiba muncul inspirasi yang terus mengganggu hidup saya, membuat hidup saya tidak tenang, sebelum saya berhasil menumpahkan semuanya. Banyak dari ide mentah tersebut yang masih bisa dikembangkan, namun di beberapa waktu saya malas untuk mengembangkan dan melanjutkan cerita yang sudah saya mulai. Itu adalah salah satu hal yang ingin saya kurangi: saya ingin menyelesaikan hal yang sudah saya mulai. Hal itu sulit, setidaknya dalam konteks menulis, karena saya lebih sering menulis untuk bersenang-senang.

Saat saya menemukan situs ini, mungkin saat SMA atau awal kuliah, saya merasa terinspirasi dengan semua tulisan yang ada di situs ini. Harus saya akui semua orang yang menulis ini memiliki pemikiran yang hebat, setelah membaca tulisan-tulisan mereka. Semua orang memiliki cerita untuk dibagikan, untuk dijadikan pembelajaran bagi pembacanya.

Juga, dijadikan motivasi bagi orang lain untuk berbagi ceritanya pula.

Bagaimana dengan saya?

Saya kabur!

Entah mengapa, ketika ingin mempublikasikan sesuatu di situs ini, saya merasakan tekanan yang besar untuk menulis hal yang berbobot, seperti tulisan-tulisan yang sebelumnya saya baca. Saya tidak mengerti mengapa saya merasakan hal tersebut, padahal tidak ada siapapun yang memaksa saya harus membuat rangkaian kalimat yang penuh dengan rima, kata-kata asing yang jarang digunakan manusia, atau berbagi pengalaman moral sekelas Dalai Lama. Saya merasa saya tidak bisa menulis untuk bersenang-senang di sini!

Lalu, apa yang saya lakukan? Apakah saya berhenti menulis?

Ya dan tidak. Ya, saya tidak menulis di situs ini, tapi saya menulis di situs lain yang, bagi saya, terkesan lebih santai dan lebih bebas mengungkapkan apapun. Situs itu adalah situs untuk membuat blog yang sangat populer dengan post dari orang-orang seperti Mas Gun, penuh dengan meme, dan lain-lain. Bisa tebak? Hahaha.

Tetapi, akhir-akhir ini saya tidak bisa login di situs tersebut, padahal saya memiliki banyak hal untuk dipublikasikan. Pada akhirnya, saya kembali lagi ke Medium.

.   .   .

Continue reading Write to Express, Not to Impress